Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 24 November 2009

Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat (1)

Berikut ini adalah seri Materi Tarbiyah ke-2. Setelah sebelumnya membahas urgensi syahadat, kali ini kita membahas Syarat Diterimanya Syahadat. Materi tarbiyah ini diambil dari buku Seri Materi Tarbiyah: Syahadat dan Makrifatullah yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan, Wahid Ahmadi, dan Abdullah Sunono. Selamat mengkaji.
***

Sulaiman duduk termenung menatap ke kejauhan dengan sorot mata kosong. Ia seperti itu selama beberapa waktu ini. Sahabat dekatnya –Adi- tidak tahan untuk tidak bertanya, mengapa Sulaiman semurung itu. Akhirnya, Adi tahu jawabannya. Sulaiman baru ditolak lamarannya pada sang ukhti pujaan.

Betapa tidak murung, Sulaiman tadinya yakin bakal langsung diterima karena ia merasa tidak memiliki kekurangan yang berarti; sarjana, berkecukupan, tampang boleh. Akan tetapi, itu menururt dirinya. Namun si ukhti yang dilamar ternyata memiliki syarat yang tidak bisa dipenuhi, hingga ditolaklah lamaran itu.

Si Ujang lain lagi. Ia sudah lama menginginkan sebuah barang. Kini barang itu ada dan tempatnya pun diketahui. Ia datang untuk membelinya. Ia menawar dengan segenap kemampuannya. Ternyata sang penjual menolaknya, karena tidak ada kesepakatan harga.

Berdasarkan gambaran dua cerita di atas, dapatlah dipahami bahwa pada proses lamar-melamar dan jual beli itu tidak serta merta melahirkan sebuah penerimaan dan kerelaan. Seorang gadis yang dilamar butuh syarat tertentu, agar lamaran diterima. Sang penjual pun butuh harga tertentu, agar penawaran diterima. Demikian pula dengan ikrar kalimat syahadat. Ia memiliki sejumlah syarat, agar bisa diterima di sisi Allah SWT.

Syahadat tidak berhenti pada pernyataan seorang Muslim dengan mengucapkannya, lalu pasti diterima selamanya. Syahadat pun tidak hanya pengakuan dan pernyataan dari seorang hamba, lalu bereslah semua dan Allah pasti ridha menerimannya.

Apabila kalimat syahadat itu berhenti pada pengakuan, hal itu sama sekali belum membedakan antara orang beriman dengan yang tidak beriman. Iblis mempercayai dan mengetahui adanya Allah, akan tetapi ia tidak beriman.org-orang musyrik di zaman kenabian mempercayai Allah, akan tetapi mereka bukanlah orang beriman. Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini!

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ [يونس/31]
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" (QS. Yunus : 31)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ [لقمان/25]
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman : 25)

Demikian pula pengakuan tulus mereka mengenai kekuasaan Allah SWT.

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) [المؤمنون/84-87]
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" (QS. Al-Mukminun : 84-87)

Keseluruhannya menunjukkan bahwa iman bukan sekadar ucapan atau ikrar di lisan. Jika ikrar saja telah menunjukkan keimanan, maka tentulah mereka tidak dikecam Al-Qur'an. Tidak setiap ikrar persaksian diterima dan menunjukkan keabsahannya. Akan tetapi, sebelum persaksian, diperlukan sejumlah persyaratan agar ikrar syahadat menjadi diterima di sisi Allah SWT.

Ketika ada orang bertanya kpd Wahhab bin Munabbih, "Bukankah laa ilaaha illallah adalah kunci surga?" Ia menjawab, "Benar, namun tidak ada satu kunci pun kecuali mempunyai gigi-gigi. Jika engkau menggunakan kunci yang bergigi, pintu akan terbuka. Jika tidak, pintu tidak akan terbuka." Gigi-gigi itulah yang menjadi syarat diterimanya syahadat dlm pembahasan kali ini.

Asy-Syaikh Muhammad Said Al-Qathani menyebutkan tujuh syarat diterimanya persaksian syahadat.

Mengetahui (Al-'Ilm)
Syarat pertama diterimanya ikrar syahadat adalah mengetahui makna yang dimaksud dan yang terkandung di dlm kalimat syahadat tersebut. Pengetahuan ini menyangkut beberapa hal, misalnya makna kata "asyhadu", pengertian "ilah", juga pemahaman tentang nafy wa itsbat (penolakan dan pengukuhan) yang tertuang dalam huruf la dan ila. Berikut urgensi dan kandungan umum maknanya. Berbagai pengetahuan tentang ini sangat penting untuk memahami kedalaman makna syahadat itu.

Manusia memiliki akal pikiran, sehingga mampu mempertimbangkan semua yang dilakukan dan diamalkan. Manusia yang berakal pikiran sehat tidak pernah berbuat sesuatu, kecuali telah diketahui apa yang hendak dilakukannya itu. Oleh karena itu, seseorang harus mengetahui sesuatu sebelum mengikuti atau melaksanakannya.

Allah SWT berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra' : 36)

Demikian juga kandungan syahadat, yang memuat prinsip sangat fundamental, yakni persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ia harus diikrarkan dengan pemahaman.

Allah SWT berfriman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ [محمد/19]
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (QS. Muhammad : 19)

Pada ayat di atas, Allah telah mendahulukan perintah untuk memiliki pengetahuan akan sesuatu (maka ketahuilah) sebelum memerintahkan untuk beramal (mohonlah ampunan bg dosamu). Setiap orang yang bersyahadat harus mengetahui dengan benar tentang apa yang diucapkannya. Ketidaktahuan atau kebodohan dalam memahami kandungan kalimat syahdat menyebabkan ucapan seseorang tak ubahnya seperti mesin atau burung beo yang pandai mengucapkan kata-kata tanpa mengetahui maknanya.

Secara umum, dan dalam hal apa saja, pengetahuan memang harus didahulukan atas amalan. Mengapa?
1. Ilmu adalah pembangkit iman dan ketundukan. Allah SWT berfirman,
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ [الحج/54]
dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya… (QS. Al-Hajj : 54)

2. Ilmu menghindatkan kerancuan
Karena tidak berilmu, banyak orang merasa telah berbuat kebajikan, namun sebenarnya perbuatannya termasuk kesesatan.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) [الكهف/103، 104]
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi : 103-104)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, "Pekerja yang tanpa ilmu lbh banyak merusak daripada memperbaiki."

3. Ilmu adalah pemimpin amal
Ilmu berada di barisan depan. Ia mengarahkan, membimbing, dan memberikan koreksi bagi pelakunya.

Muadz bin Jabal pernah berkata, "Ilmu adalah imamnya amal dan amal menjadi pengikutnya."

Imam Hasan Al-Basri berkata, "Pelaku amal yang melakukannya tanpa ilmu, ibarat orang berjalan tidak pada jalannya. Pekerja tanpa ilmu lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Oleh karenanya, carilah ilmu sebanyak-banyaknya, namun jangan sampai berbahaya bagi ibadah dan carilah ibadah sebanyak-banyaknya, namun jangan sampai berbahaya bagi ilmu. Ada segolongan kaum yang begitu gigih beribadah, namun meninggalkan ilmu hingga keluar dari rumahnya membawa pedang untuk memerangi umat Muhammad SAW. Seandainya saja mereka mencari ilmu, niscaya ilmu itu tidak mengarahkan pada apa yang mereka perbuat." (Ibnu Qayyim dalam Miftah Daar As-Sa'adah)

Keyakinan
Setiap orang yang berikrar harus meyakini kandungan kalimat syahadat dengan keyakinan yang kuat. Dengan keyakinan seseorang akan terhindar dari keraguan dan dengan keyakinan pula ia akan melangkah dengan kepastian.

Dalam kehidupan keseharian, jika seseorang berkata "Saya bersaksi bahwa si A adalah orang yang baik dan tidak berdusta." Kemudian seseorang bertanya, "Apakah Anda yakin tentang kesaksian Anda?" jawaban orang tersebut akan sangat menentukan penerimaan kesaksiannya.

Jika ia mengatakan, "Ya, saya sangat yakin dengan persaksian saya tersebut," maka orang lain punya peluang untuk menerima persaksiannya. Akan tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, "Tidak, sesungguhnya saya tidak begitu yakin dengan apa yang saya persaksikan," maka bagaimana orang lain akan bisa menerima persaksiannya?

Demikian pula dalam persaksian kalimat syahadat. Setiap orang yang mengikrarkan kalimat ini harus meyakini dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan di dalamnya. Allah SWT telah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات/15]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat : 15)

Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Mufhim 'ala Shahih Al-Muslim menjelaskan, "Tidak cukup dengan melafalkan syahadatain, akan tetapi harus dengan keyakinan hati."

Mungkin persoalannya adalah bagaimana menumbuhkan keyakinan itu, atas sesuatu yang gaib. Persaksian atas ketuhanan Allah dan kerasulan Muhammad adalah masalah gaib, namun kita dituntut untuk yakin hingga bahkan harus bersumpah dan bersaksi.

Keyakinan dapat dihasilkan melalui pendekatan logika. Beberapa kaidah logika akan membantu Anda mengimani Allah SWT, Dzat Yang gaib.

Pertama, ketiadaan tidak bisa menciptakan wujud.
Orang awam tentu heran ketika melihat daging buku tahu-tahu ada belatungnya. Adakah ia muncul secara sekonyong-konyong? Namun dunia ilmu telah menjawabnya, bahwa ia datang sbg larva lalat. Ketika daging itu busuk, maka lalat pun berdatangan dan ia bertelur di daging busuk itu. Lahirlah larva lalat itu. Demikianlah, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara sekonyong-konyong, dari ketiadaan.

Kedua, berpikir tentang ciptaan dapat mengantarkan kita kepada sifat penciptanya.
Ketika mengamati kursi kayu yang bagus dan kuat, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa pembuat kursi pasti seseorang yang bisa mengukur dengan cermat, memiliki kayu, memiliki alat pengukur, memiliki alat potong, sekaligus memiliki alat penghalus. Alam yang terbentang luas pasti akan mengantarkan Anda pada pengetahuan tentang karakter Pencipta yang Mahasempurna.

Ketiga, orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberi sesuatu.
Bagaimana mungkin alam tercipta dengan fenomena keindahan, keunikan, dan kecermatan yang demikian sempurna, kalau bukan diciptakan oleh Dzat Yang Mahasempurna pula? Itulah Allah SWT.

Pendekatan logika ini hanyalah alat bantu untuk mendekatkan dan mengukuhkan keimanan kita kepada Allah SWT. Selebihnya, ayat-ayat Al-Qur'an tentu sangat banyak menceritakan hakikat ini. Dengan itulah, keyakinan akan semakin tumbuh kukuh dalam benak setiap kita. Bersambung ke Syarat Diterimanya Syahadat (2). [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]

Artikel Terkait



Web Hosting
link
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentarnya! Salam ukhuwah selalu.[Muslim Weblog]